CLICK! Kembang kertas

Perenungan, Keindahan alam, dan Sumber Daya Alam

Foto Saya
Nama:
Lokasi: jakarta, Indonesia

facebook: mat.ujan@gmail.com

Rabu, 18 November 2009

Kesabaran Ada Batasnya?


Dari penghujung bukit, pada sepasang jendela mata. menyaksikan luasnya daratan tanah dan kabut pagi, setelah turun hujan tadi malam yang membatasi penglihatan.
Bila menengadahkan wajah keatas, penglihatan tak sanggup menembus langit yang tertutup kabut. Bila menatap kebawah, hanya danau bekas galian tambang yang tampak beserta hijaunya tumbuhan hasil proyek reklamasi.

Disinilah kami tiap pagi. Bersahabat dan belajar menikmati sisi kehidupan yang serba terbatas dari sebuah ke tak terbatasan. Kami pun berdiskusi kopi pagi, tentang "Apakah kesabaran itu ada batasnya?"

Hasil diskusi yang didapat: Kesabaran itu tidak ada batasnya. Kesabaran itu seperti langit, luas tak terbatas. Bila kesabaran itu ada batasnya, ini dikarenakan diri sendirilah yang membatasinya

***
Kabut kegelisahan semakin menebal setelah hujan kemarahan jatuh menghujam jiwa lusuh, sehingga "membatasi penglihatan mata hati, dilangit - langit alam kepala kita yang luas tak terbatas dari segala kebaikan dan pemikiran".

(Kabupaten Muarabungo-Jambi. Kec, Rantau Pandan.)

Kamis, 05 November 2009

Saya Dalang Korupsi KPK


Hasil suara hati FB:
- Arif Sekar Hayuningrat
- John Al Farisi
- Carl Cutzclow Atmodimejo
- Penghuni Istana Jangkrik
- Luh Jingga
- Ramses
- Fadma Hadi

Gara - gara orang yg sudah tua, negara jadi bingung. Terkait urusan Komisi pemberantasan Korupsi (KPK). Kini suhu politik negara kita nyaris mencapai kisaran 200 derajat celcius (lumayan suhu ini bisa memanaskan air kopi).

Istilah cicak vs buaya sudah tidak digunakan lagi. Sebagai gantinya "Kadal vs buaya". Sebab, biasanya para penjudi warung kopi di Jakarta sering mengatakan,"Buaya mau dikadalin... Ya gak bisa". Artinya; "Gue penipu besar mau dibohongin sama penipu kecil... Ya gak bisa".

Memang, dunia politik itu dihuni oleh sebagian binatang. Sehingga Iwan Fals mengarang lagu "Tikus Kantor dan Belalang tua." Sayangnya John Al Farisi beli Kaset bajakan sehingga syair lagu belalang tua tdk sesuai dengan teks aslinya.

***
Kisah ini bermula dari puisi berjudul TESTIMONI karya Pak tua. Dalam testimoni tersebut, Pak tua mengadakan pertemuan dengan belalang tua di Singapura (bukan di Singaparna-Jawa Barat). Katanya lagi, ada 2 tikus sudah menerima sejumlah uang dari belalang tua.

Lanjut...
Ada pihak ke-3 yang ingin mengadu Kadal dan Buaya. Akhirnya kadal dan buaya bermusuhan. Pihak inilah yang membuat kompor negeri jadi panas. Mulai dari bikin isu penyadapan (maksudnya bukan sadap getah karet ya), lalu isu suap (maksudnya bukan suapin bubur buat bayi ya), terus isu penyalahan wewenang, hingga penetapan orang yg agak tua jadi tersangka.

***
Dikarenakan kelompok orang - orang tua gak mau ngaku korupsi. Lebih baik saya mengajukan kepada kawan - kawan FB segera tangkap saya. Bahwasannya SAYA ini adalah DALANG KORUPSI KPK. Ini dimaksudkan agar saya yg mewakili anak muda bisa memberi contoh atau sauritauladan sekaligus panutan bagi orang - orang tua itu.

Namun kawan - kawan FB menolak pengajuan ini karena akan menimbulkan masalah besar. Bila anak muda dipenjara permintaannya banyak dan tambah merugikan negara; mulai dari minta makan nasi goreng hingga minta Kentuti Pret Chicken paket paha.

Lalu, ada juga kawan FB yang mengatakan,"Lebih baik kelaparan diluar penjara daripada kenyang dipenjara tapi kehilangan kehormatan.

Nah, inilah yang menyebabkan saya menarik pengajuan penangkapan diri saya ini karena takut kehikangan kehormatan. Soalnya saya masih perjaka ting - ting.


***
Kembali ke pokok kisah binatang yang memiliki ekor, dan berjalan merayap. Gara - gara kelakuan kucing garong. Kami selaku anak muda merasa pusing menyaksikan tingkah laku mereka. Sehingga kami di buat mabuk menonton persidangan kasus KPK yang di tayangkan oleh televisi berwarna.

Apalagi ketika melihat Tikus mengenakan topi miring dengan wajah menciut mirip pil koplo.

***
Oleh karena itu, Kami selaku anak muda. memberi wejangan atau nasihat kepada orang - orang tua bahwa persoalan ini harus di selesaikan dengan baik. Harus berani jujur dan berani mengakui kesalahannya. serta tidak boleh nakal dan berkelahi agar kelak bila ajal menjemput bisa mati masuk surga. Setelah disurga tidak boleh lagi diulangi kelakuan di dunia ya... biar awet di surga.

Disamping itu, bagi yang mulai masuk usia tua. Jangan mencontoh perilaku orang - orang tua ya... nanti tuanya jelek dan keriput.


gambar diambil dari:
heymrtj.blogspot.com/2008/05/buaya-dan-kadal.htm

Jumat, 30 Oktober 2009

Ibu Pelacur dan Bapak Pencopet





Hasil Suara hati FB:
- Filep Mambor (Manokwari, Papua Barat - Irian Jaya)
- John Al Farisi (Wonogiri - Jawa tengah)
- Penghuni Istana Jangkrik (Klaten - Jawa Tengah)
- Luh Jingga (.......)
- Syifa (Jakarta)
- Ipunk Keren (Muara Bungo)
- Fadma Hadi (Muara Bungo - Sumatera Selatan)




Seorang pelacur menangis. Anaknya dikeluarkan dari bangku sekolah karena tak sanggup melunasi uang bayaran bulanan. Sementara suaminya yang berprofesi sebagai pencopet masuk rumah sakit, lantaran dipukuli masa.

***
Ada beberapa orangtua miskin memiliki prinsip: "Rela masuk neraka asal anak2nya masuk surga."

Dan, inilah kehebatan seorang ibu yang siap hidup dicaci - maki, dihina demi membantu suami dalam memberi nafkah anaknya agar tidak kelaparan perut maupun kelaparan otak.

Makanan otak yang lapar adalah ilmu pengetahuan yang bisa diperoleh dari dunia pendidikan.

PENDIDIKAN adalah hak tiap anak bangsa demi merubah pola pikir menjadi luas/cerdas.

Ibu pelacur dan bapak pencopet berdo-a agar anaknya kelak tidak memiliki hidup/ nasib seperti orgtuanya yg terpaksa masuk ke dalam lembah hitam.

***
Negara akan MAKMUR bila tunas bangsanya cerdas karena ditunjang dengan adanya sistem dan praktek pendidikan yg bermoral baik dan ikhlas, termasuk tenaga pendidik yang tidak mengedepankan bisnis atas nama pendidikan.

Tunas bangsa merupakan pewaris hak atas kehidupan tanah air. Karena itu tunas bangsa perlu ditunjang dengan kesehatan pangan agar memiliki kecerdasan yang bagus.

Dalam Amanah UUD 45: Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Bila ini tdk diterapkan atau diperjuangkan, berarti para pejabat dan lain - lain (apapun namanya) adalah pengkhianat negara.

***
Seperti inilah nakalnya orangtua kaya-raya yg berjas hitam berdasi putih. Sudah punya anak ganteng - ganteng dan cantik serta memiliki isteri yang sexy, malah jd bos copet seperti yg dilakukan club oknum KPK. Seharusnya malu jadi orangtua korup.

Ini baru lucu, ayat tembakau katanya hilang dicopet.
Jangan - jangan dana pendidikan juga dicopet oleh pelacur negara.

Pantas bila dana beasiswa yang diperuntukan bagi kaum miskin salah sasaran, masuk kedalam kantung jajan anak orang kaya (pejabat) untuk pesta diatas penderitaan orang miskin.

***
Hukum di Tanah air:
Bila orang miskin mencopet, mendapat hukuman dipukuli masa. Pernah ada juga yang harus dihukum mati dengan cara dibakar masa.

Lalu, hukuman apa yang paling pantas untuk pencopet dan pelacur negara?

Kutipan dan gambar diambil dari:
http://4f121z4l.multiply.com/journal/item/38/Pendidikan_Mahal_Buah_Pemerintahan_Kapitalis


Islam Menjamin Pendidikan Bagi Semua

Bertolakbelakang dengan ideologi Kapitalisme yang meminimalkan peran negara, ideologi Islam justru menetapkan negara sebagai pihak yang bertanggungjawab penuh atas pemeliharaan urusan-urusan masyarakat. Rasulullah saw. menegaskan:

«الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»

Imam (kepala negara) adalah pengurus rakyat dan dia akan dimintai pertangunggjawaban atas pengurusan rakyatnya (HR al-Bukhari dan Muslim).

«فَالأَمِيرُ الَّذِى عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»

Pemimpin (kepala Negara) adalah pihak yang berkewajiban memelihara urusan rakyat dan dia bertanggung jawab atas urusan rakyatnya (HR Muslim).

Di antara pengurusan rakyat adalah pendidikan. Jadi, dalam Islam negara berkewajiban memelihara urusan pendidikan rakyatnya. Negara tidak boleh lepas tangan dan menyerahkan pendidikan kepada swasta. Negara justru harus bertanggung jawab penuh atas masalah pendidikan rakyatnya.

Rabu, 28 Oktober 2009

Apa Boleh Buat LELAKI EGOIS


karya ini diambil dari 3 potongan suara hati:
- John Al Farisi (Wonogiri-Jawa Tengah)
- Penghuni Istana Jangkrik (Klaten-Jawa Tengah)
- Fadma Hadi (Muara Bungo-Jambi, Sumatera Selatan)

Dengan Menggunakan celana Pendek onthal - anthil dan berhiaskan dua tabung gas yang tercentel rapi dikedua tangannya. Sang lelaki berjalan menelusuri lorong gelap yang diiringi oleh ganasnya amukan petir. Berharap dapat mengais selinting tembakau dan secangkir kopi dari misi penggabrulannya.

***
Malampun merampas sisa istirahatnya dengan hembusan angin kenangan. Kerinduan beserta kenikmatannya. Ketika menemukan endapan senyawa kafein dalam darah dan nikotin yang bersemayam di rongga paru - paru, membuat lelaki memuja kantuk.

Terkadang kerinduan pada alam mimpi kembang tidur, selalu merayu hati untuk lekas baringkan tubuh diatas bentangan tikar. Daripada memuja kekasih.

Ditiap kesempatan malam. Diawali dengan secangkir kopi panas sebagai pembuka. Dan, setumpuk catatan hati yang telah usang sebagai menu yang mengenyangkan. Lelaki asyik memainkan rokok di sela jari - jemari tangannya.

Akh....
Malam selalu di lewati begitu saja dengan hal - hal kerinduan seperti ini. Membuat kekasih pujaannya cemburu.

Minggu, 25 Oktober 2009

CLICK! Kembang kertas: MEMBURU

CLICK! Kembang kertas: MEMBURU

CLICK! Kembang kertas: MEMBURU

CLICK! Kembang kertas: MEMBURU

Jumat, 23 Oktober 2009

MEMBURU



Ditulis oleh Dimita Prescillia ketika mengikuti Camp Wanadri didaerah
perbatasan segitiga; antara Sumedang, Bandung, dan Garut. Nama
tempatnya Kareumbi, keatas lagi dari Curug Cinulang.

***
Pagi itu untuk kesekian kalinya, suara riuh terdengar mendayu - dayu
dari hulu. Menggelitik telinga, merasuk dalam sanubari, bahkan
bersemayam dalam mimpi.

Aku tersadar bahwa alam memangilku jika aku merindukannya. Entahlah,
apakah alam memangilku atau aku yang memangilnya? Aku yakin, bahwa
akulah yang memangilnya. Membuat kerinduanku meluap terbang bagai
ditiup angin. Begitu ringan.

***

Bersama seorang sahabat. Keluar dari rombongan Wanadri. Pergi
menjelajah berdua. Berburu keindahan dengan menggunakan kamera foto.

Kami 2 gadis pemberani. Tidak takut tersesat. Bila tersesat didalam
hutan, ikuti saja suara alam; hembusan semilir angin, dedaunan yang
bergemerisik, rumput - rumput yang bernyanyi, bunga - bunga liar yang
bergoyang, bahkan ikuti air yang menggelegak mengalir. Ikuti saja dan
rasakan dengan mata hati. Ada irama yang tak beraturan. Namun, tetap
seirama dan selaras. Mengalun tentramkan hati, sejukan jiwa. Inilah
setitik Maha Karya Agung Tuhan Raja Semesta Alam.

***
Tiba dijembatan sederhana yang terbuat dari kayu. Dan, dibawah
jembatan ini, terdapat rawa dengan airnya yang jernih sebening kaca.
Segar menggairahkan.

Saat tangan kami menyentuh air rawa ini, ingin rasanya menceburkan
diri. Tak tahan merasakan sensasi kesegeraran air rawa. Tetapi
keinginan itu urung. Padahal, kami adalah 2 gadis yang belum mandi.

Kami lepas sepatu dan menggulung celana jeans seadanya agar tidak
kebasahan saat merendam kedua kaki di air rawa dengan posisi menduduki
rerumputan dan tanaman perdu yang telah mengering. Sensasi kesegeraran
air rawa ini kembali meresap ke jiwa, yang menjalar dari ujung jempol
kaki hingga ke ubun -ubun kepala. Mengalir seperti andrenalin yang
deras. Efek menyegarkan ini dapat membantu ringankan beban hidup yang
berat bila dipikirkan. Setelah kesegaran menguasai tubuh. kami mulai
mengambil objek foto. Begitu alami khas rawa pegunungan.

Tampak sebatang Pohon mati. Sepertinya akar pohon itu kesulitan
bernafas akibat terendam permukaan air yang meninggi.

Gambar -gambar pemandangan yang mampu menarik hati, kami abadikan
dengan jepretan foto. Menjadi kenangan pribadi yang tak terlupakan

Minggu, 18 Oktober 2009

Lupa atau pura - pura


Ya... Seperti inilah kenyataan hidup menjelang malam di area tambang batubara. Di tengah hutan kec. Rantau Pandan. Bila cuaca bersahabat, tontonan yang menarik bukanlah televisi. Tapi, langit berhiaskan cahaya senjakala.

Malampun tiba, taburan bintang dilangit menambah asyiknya tontonan gratis karya Sang Maha Pencipta. Sesekali iklan berupa cahaya kilatan petir begitu menggairahkan. Sejuta sensasi meluap dihati ketika menikmati tegukan segelas kopi.

Kehidupan inilah yang mampu melupakan beban hidup berat ; lupa hutang diwarung kopi atau pura - pura lupa bayar kopi...